ANALISIS WACANA KRITIS



“ANALISIS WACANA KRITIS”
FITRI UMI ZAKIYAH, PBSI 2104 C / 146042

A.    ANALISIS WACANA
Analisis wacana adalah suatu disiplin ilmu yang berusaha mengkaji penggunaan bahasa yang nyata dalam komunikasi. Analisis wacana lazim digunakan untuk menemukan makna wacana yang persis sama atau paling tidak sangat ketat dengan makna yang dimaksud oleh pembicara lama wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis.
Berdasarkan analisisnya, ciri dan sifat wacana menurut Syamsudin (1992:6) analisis wacana dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.      Analisis wacana membahas kaidah memakai bahasa di dalam masyarakat (rule of use- menurut Widdowson, 1987).
2.      Analisis wacana merupakan usaha memahami makna tuturan dalam konteks, teks, dan situasi (Firth, 1957).
3.      Analisis wacana merupakan pemahaman rangkaian tuturan melalui interpretasi semantik (Beller).
4.      Analisis wacana berkaitan dengan pemahaman bahasa dalam tindak berbahasa (what is said from what is done- menurut Labov, 1970).
5.      Analisis wacana diarahkan kepada masalah memakai bahasa secara fungsional (functional use of language- menurut Coulthard, 1977).
Ciri-ciri dasar lain dapat diramu dari beberapa pendapat para ahli, yaitu sebagai berikut:
1.      Analisis wacana bersifat interpretatif pragmatis, baik bentuk bahasanya maupun maksudnya (form and notion).
2.      Analisis wacana banyak bergantung pada interpretasi terhadap konteks dan pengetahuan yang luas (interpretation of world).
3.      Semua unsur yang terkandung di dalam wacana dianalisis sebagai suatu rangkaian.
4.      Wujud bahasa dalam wacana itu lebih jelas karena didukung oleh situasi yang tepat (all material used in real that is actually having occoured in appropriate situasional).
5.      Khusus untuk wacana dialog, kegiatan analisis terutama berkaitan dengan pertanyaan, jawaban, kesempatan berbicara, penggalan percakapan, dan lain-lain.
B.     ANALISIS WACANA  KRITIS
Analisis wacana kritis (AWK) adalah sebuah upaya atau proses (penguraian) untuk memberi penjelasan dari sebuah teks (realitas sosial) yang mau atau sedang dikaji oleh seseorang atau kelompok dominan yang kecenderungannya mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh apa yang diinginkan. Artinya, dalam sebuah konteks harus disadari akan adanya kepentingan. Oleh karena itu, analisis yang terbentuk nantinya disadari telah dipengaruhi oleh si penulis dari berbagai faktor. Selain itu harus disadari pula bahwa di balik wacana itu terdapat makna dan citra yang diinginkan serta kepentingan yang sedang diperjuangkan.
Analisis wacana yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subjek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pemahaman mendasar analisis wacana adalah wacana tidak dipahami semata-mata sebagai objek studi bahasa. Pada akhirnya, memang analisis wacana kritis menggunakan bahasa bahasa dalam teks yang dianalisis, tetapi bahasa yang dianalisis dalam AWK berbeda dengan studi bahasa dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa yang dianalisis oleh AWK bukan menggambarkan aspek bahasa saja, tetapi juga menghubungkannya dengan konteks. Konteks dalam hal ini berarti bahasa yang dipakai untuk tujuan tertentu termasuk di dalamnya praktik kekuasaan. AWK melihat bahasa sebagai fakta penting, yaitu bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimpangan-ketimpangan kekuasaan dalam masyarakat.
Teun van Dijk (1998) mengemukakan bahwa AWK digunakan untuk menganalisis wacana-wacana kritis, diantaranya politik, ras, gender, kelas sosial, hegemoni, dan lain-lain. Selanjutnya Fairclough dan Wodak (1997: 271-280) meringkas tentang prinsip-prinsip ajaran AWK sebagai berikut:
1.      Membahas masalah-masalah sosial
2.      Mengungkap bahwa relasi-relasi kekuasaan adalah diskursif
3.      Mengungkap budaya dan masyarakat
4.      Bersifat ideologi
5.      Bersifat historis
6.      Mengemukakan hubungan antara teks dan masyarakat
7.      Bersifat interpretatif dan eksplanatori
C.    ANALISIS WACANA KRITIS UNTUK MENGGALI SUATU IDEOLOGI
Secara harfiah, ideologi berarti ilmu tentang ide-ide sesuai dengan perkembangan zaman, perkembangan ilmu, dan pengetahuan. Batasan ideologi adalah sebuah sistem nilai atau gagasan yang dimiliki oleh kelompok atau lapisan masyarakat tertentu, termasuk proses-proses yang bersifat umum dalam produksi makna dan gagasan. AWK mempelajari tentang dominasi suatu ideologi serta ketidakadilan dijalankan dan dioperasikan melalui wacana. Fairclough mengemukakan bahwa AWK melihat wacana sebagai bentuk dan praktik sosial. Praktik wacana menampilkan efek ideologi.
Ideologi merupakan konsep sentral dalam AWK, misalnya wacana sastra adalah bentuk ideologi atau pencermina dari ideologi tertentu. Ideologi ini dikontruksikan oleh kelompok yang dominan dengan tujuan untuk mereproduksi dan melegitimasi dominasi mereka. Salah satu strateginya adalah membuat kesadaran khalayak, bahwa dominasi itu diterima secara taken for granted. Ideologi dalam hal ini secara inheren bersifat sosial dan AWK melihat wacana sebagai bentuk dari praktik sosial.
Studi kritis terhadap bahasa menyoroti bagaimana konvensi dan praktik berbahasa terkait dengan hubungan kekuasaan dan proses ideologis yang sering tidak disadari oleh masyarakat. Beberapa pokok pikiran tentang studi kritis terhadap bahasa adalah:
  1. Wacana dibentuk oleh masyarakat
  2. Wacana membantu membentuk dan mengubah pengetahuan serta objek-objeknya, hubungan sosial, dan identitas sosial
  3. Wacana dibentuk oleh hubungan kekuasaan dan terkait dengan ideologi
  4. Pembentukan wacana menandai adanya tarik-ulur kekuasaan (power struggles)
5.      Wacana mengkaji bagaimana masyarakat dan wacana saling membentuk satu sama lain
D.    ANALISIS WACANA KRITIS DAN PENGGUNAAN BAHASA DALAM KONTEKS SOSIAL
Analisis wacana ini sibuk sibuk menganalisis kaidah, perpindahan, dan strategi tuturan berbahasa sehari-hari dengan konteks sosial yang amat terbatas. Para analisis wacana semakin menyadari akan beragamnya pilihan dan keluasan objek penelitian linguistik, yaitu penggunaan bahasa yang aktual dalam konteks sosialnya. Paradigma psikologi dan intelektual disangsikan keakuratannya dalam menganalisis wacana yang sarat dengan berbagai fitur konteks sosial yang luas, seperti gender, kekuasaan, status, etnis, peran, dan latar institusi.
Kedua istilah yaitu teks dan wacana secara bergantian digunakan dalam analisis wacana. Kress mengungkap tentang istilah teks dan wacana cenderung digunakan tanpa perbedaan yang jelas. Kejian wacana lebih menekankan pada persoalan isi, fungsi, dan makna sosial dalam penggunaan bahasa. Sedangkan diskusi-diskusi dengan dasar dan tujuan yang lebih linguistis cenderung menggunakan istilah teks. Kajian teks lebih menekankan pada persoalan matrialitas, bentuk, dan struktur bahasa. Brunner dan Grafaen (Wodak, 1996:13) mengemukakan bahwa istilah wacana berakar pada sosiologi, sementara istilah teks berakar pada filologi dan sastra.
Wacana dipahami sebagai unit-unit dan bentuk-bentuk tuturan dari interaksi yang menjadi bagian dari perilaku linguistis sehari-hari, tetapi dapat muncul secara sama dalam lingkungan institusional. Wacana memerlukan kehadiran bersama dari penutur dan pendengar (interaksi face to face), tetapi dapat dikurangi ke arah kehadiran bersama yang temporal (misalnya dalam telepon).
Dalam konteks teori perilaku linguistis, adalah penting untuk menentukan “teks”, perilaku linguistis itu yang materinya dibuat dalam teks dipisahkan dari situasi tuturan umum yang hanya sebagai perilaku reseptif pembaca, dasar umumnya dipahami dalam makna sistematis, bukan makna historis. Dalam teks, perilaku ujaran memiliki kualitas pengetahuan dalam melayani transmisi serta disimpan untuk penggunaan sesudahnya dalam bentuk tertulis yang konstitutif untuk penggunaan istilah sehari-hari.
Jadi, teks lebih dipandang sebagai fenomena linguistis yang berdiri sendiri dan terpisah dari situasi tuturan. Sementara itu, wacana merupakan teks yang berada dalam situasi tuturan menurut van Dijk wacana adalah teks “dalam konteks”. Dalam wacana terkandung makna konteks yang lebih luas. Wodak merumuskan wacana sebagai totalitas interaksi dalam ranah tertentu (misalnya wacana gender). Wacana itu dikuasai secara sosial dan dikondisikan secara sosial. Untuk tujuan analisis wacana harus dilihat dari tiga dimensi secara simultan (Fairclough, 1995: 98), yaitu teks-teks bahasa, praksis kewacanaan, praksis sosialkultural. Menganalisis sebuah wacana secara kritis pada hakikatnya adalah menganalisis tiga dimensi wacana tersebut sebagai aplikasi dialektis
E.     KARAKTERISTIK ANALISIS WACANA KRITIS
Di dalam analisis wacana kritis, wacana tidak dipahami semata-mata sebagai suatu studi bahasa. Analisis wacana menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis, tetapi bahasa yang dianalisis relatif  berbeda dengan studi bahasa dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa yang dianalisis bukan semata-mata dari aspek kebahasaan, melainkan juga menghubungkannya dengan konteks. Konteks yang dimaksud digunakan untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk didalamnya praktik kekuasaan untuk memarginalkan individu atau kelompok tertentu.
Menurut Fairclough dan Wodak, analisis wacana kritis melihat wacana sebagai bentuk dan praktik sosial. Wacana sebagai praktik sosial menyebabkan sebuah hubungan dialektis di antara peristiwa wacana tertentu dan situasi, institusi, dan struktur sosial yang membentuknya. Praktik wacana bisa jadi menampilkan ideologi: ia dapat memproduksi dan mereproduksi hubungan kekuasaan yang tidak berimbang anatar kelas sosial, laki-laki dan perempuan, kelompok mayoritas dan minoritas. Melalui perbedaan itu direpresentasikan dalam posisi sosial yang ditampilkan. Melalui wacana, sebagai contoh, dalam sebuah wacana keadaan yang rasis, seksis, atau ketimpangan kehidupan sosial dipandang sebagai suatu common sense, suatu kewajaran atau alamiah, dan memang seperti kenyataannya.
Analisis wacana kritis melihat  bahasa sebagai faktor penting, yakni bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimpangan kekuasaan yang terjadi dalam masyarakat. Berikut ini disajikan karakteristik penting dari analisis wacana kritis yang disajikannya oleh Eriyanto dari tulisan Van Dujik, Fairclough, Wodak.
1.       Tindakan
Wacana dipahami sebagai sebuah tindakan (action). Dengan pemahaman semacam itu, wacana diasosiasikan sebagai bentuk interaksi. Wacana bukan ditempatkan seperti dalam ruang tertutup dan internal. Orang berbicara atau menulis bukan ditafsirkan seperti ia menulis atau berbicara untuk dirinya sendiri, seperti orang yang sedang mengigau di bawah hipnotis. Seseorang berbicara, menulis, dan menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain.
Dengan pemahaman sperti itu, terdapat beberapa konsekuensi di dalam memandang wacana. Pertama, wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan, apakah untuk memengaruhi, mendebat, membujuk, menyanggah, bereaksi, dan sebagainya. Seseorang berbicara atau menulis mempunyai maksud tertentu, besar aupun kecil. Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang diluar kendali atau diekspresikan di luar kesadaran.
2.      Konteks
Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks wacana, seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Wacana dalam hal ini diproduksi, dimengerti, dan dianalisis pada suatu konteks tertentu. Merujuk pada pandangan cook, analisis wacana juga memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengomunikasikan dengan siapa dan mengapa; dalam jenis khalayak dan situasu apa; melalui medium apabagaimana perbedaan tipe dari perkembangan komunikasi; dan hubungan untuk setiap masing-masing pihak.
Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan memengaruhi pemakaina bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi di mana teks tersebut diproduksi, fungsi yang dimaksudkan, dan sebagainya. Adapun wacana di sini,  kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks bersama-sama. Titik perhatian analisis wacana ialah menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam suatu proses komunikasi di sini dibutuhkan tidak hanya proses kognisi dalam arti umum, tetapi gambaran juga spesifik dari budaya yang dibawa. Studi mengenai bahasa di sini memasukkan konteks, karena bahasa selalu berada dalam konteks dan tidak ada tindakan komunikasi tanpa partisipan, interteks,  situasi, dan sebagainya.
Wacana tidak dianggap sebagai wilayah yang konstan, terjadi di mana saja dan dalam situasi apa saja. Wacana dibentuk sehingga harus ditafisrkan dalam kondisi dan situasi yang khusus. Tidak semua konteks dimasukkan dalam analisis, hanya yang relevan dan berpengaruh atas produksi dan penafsiran teks yang dimasukkan ke dalam analisis. Beberapa konteks yang penting karena bepengaruh terhadap produksi wacana.Pertama, jenis kelamin, umur, pendidikan, kelas sosial, etnik, agama, dalam banyak hal relevan dalam menggambarkan wacana. Kedua, setting sosial tertentu, seperti tempat, waktu, posisi pembicara dan pendengar atau lingkungan fisik adalah konteks yang berguna untuk mengeti suatu wacana. Setting, seperti tempat privat atau publik, dalam suasana formal atau informal, atau pada ruangan tertentu akan memberikan wacana tertentu pula.
3.      Histori
Menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu berarti wacana diproduksi dalam konteks tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks yang menyertainya. Saah satu aspek yang penting untuk bisa mengerti suatu teks ialah dengan menempatkan wacana tersebut dalam konteks historis tertentu. Misalnya, kita melakukan analisis wacana teks selebaran mahasiswa yang menentang Suharto. Pemahaman mengenai wacana teks tersebut hanya dapat dapat diperoleh apabila kita dapat memberikan konteks historis di mana teks tersebut dibuat. Misalnya, situasi sosial politik, suasana pada saat itu. Oleh karena itu, pada waktu melakukan analisis diperlukan suatu tinjauan untuk mengerti mengapa wacana yang berkembang atau dikembangkan seperti itu, mengapa bahasa yang digunakan seperti, dan seterusnya.
4.      Kekuasaan
Analisis wacana kritis juga dipertimbangkan elemen ekuasaan (power) di dalam analisisnya. Konsep kekuasaan adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dan masyarakat. Misalnya, kekuasaan lai-laki dalam wacana mengenai seksisme atau kekuasaan perusahaan yang berbentuk dominasi pengsaha kelas atas kepada bawaha, dan sebagainya. Pemakai bahasa bukan hanya pembicara. Penulis, pendengar, atau pembaca., ia juga bagian dari anggota sosial tertentu, bagian dari kelompok profesional, agama, komunitas atau masyarakat tertentu.
Kekuasaan, hubungannya dengan wacana ialah sebagai suatu kontrol. Satu orang atau kelompok mengontrol orang atau kelompok lain melalui wacana. Kontrol yang dimaksud dalam konteks ini tidak harus selalu dalam bentuk fisik dan langsung, tetapi juga kontrol secara mental atau psikis. Kelompok yang dominan mungkin membuat kelompok lain bertindak sesuai dengan yang diinginkannya.
Kelompok dominan lebih mempunyai akses seperti pengetahuan, uang, dan pendidikan dibandingkan dengan kelompok yang tidak dominan. Bentuk kontrol terhadap wacana tersebut dapat bermacam-macam, dapat berupa kontrol atas konteks yang secara mudah dapat dilihat dari siapakah yang boleh dan harus berbicara, sementara siapa pula yang hanya bisa mendengar dan mengiyakan.
5.      Ideologi
Sebuah teks tidak pernah lepas dari ideologi dan memiliki kemampuan untuk memanipulasi pembaca ke arah suatu ideologi. Kaitannya dengan budaya kritis, ideologi menjadi salah satu perhatian selain kesadaran dan hegemoni. Menurut Lull dalam Sobur, ideologi adalah sistem ide-ide yang diungkapkan di dalam komunikasi.
Ideologi merupakan suatu konsep yang sentral dalam analisis wacana yang bersifat kritis. Hal tersebut karena tek percakapan, dan lainnya adalah bentuk dari suatu praktik ideologi atau pencerminan dari ideologi tertentu. Analisis wacana tidak dapat menempatkan bahasa secara tertutup, tetapi harus melihat konteks terutama bagaimana ideologi dari kelompok-kelompok yang ada tersebut berperan dalam membentuk wacana. Dalam teks berita misalnya, dapat dianalisis apakah teks yang muncul tersebut merupakan pencerminan dari ideologi seseorang apakah dia feminis, antifeminis, kapitalis, sosialis, dan sebagainya
F.     BAHASA, TEKS, DAN KONTEKS SOSIAL DALAM ANALISIS WACANA KRITIS
1.      Bahasa sebagai Semiotik Sosial
Bahasa sebagai salah satu dari sejumlah sistem makna, seperti tradisi, mata pencaharian, dan sistem sopan santun, secara bersama-sama membentuk budaya manusia. Dalam proses sosial ini, konstruk realitas tidak dapat dipisahkan dari konstruk sistem semantis, di tempat realitas itu dikerjakan. Dalam tingkatan yang sangat konkret, bahasa tidak berisi kata-kata, klausa-klausa atau kalimat-kalimat, tetapi bahasa berisi teks atau wacana, yakni pertukaran makna. Dalam konteks interpersonal, konteks tempat makna itu dipertahankan, sama sekali bukan tanpa nilai sosial. Melalui tindakan makna sehari-hari, masyarakat memerankan struktur sosial, menegaskan status dan peran yang dimilikinya, serta menetapkan dan mendefinisikan sistem nilai dan pengetahuan.
2.      Teks
Teks berkaitan dengan apa yang secara aktual dilakukan, dimaknai, dan dikatakan oleh masyarakat dalam situasi yang nyata. Halliday (1978:40) menyatakan bahwa teks adalah suatu pilihan semantis data konteks sosial, yaitu suatu cara pengungkapan makna melalui bahasa lisan atau tulis. Semua bahasa hidup yang mengambil bagian tertentu dalam konteks situasi dapat disebut teks. Dalam hal ini ada empat catatan mengenai teks yang perlu dikemukakan sebagai berikut:
a.       Teks pada hakikatnya adalah sebuah unit semantis
b.      Teks dapat memproyeksikan makna pada level yang lebih tinggi
c.       Teks pada hakikatnya sebuah proses sosiosemantis
d.      Situasi merupakan faktor penentu teks
3.      Konteks Situasi
Halliday menyebutkan bahwa situasi merupakan lingkungan tempat teks datang pada kehidupan. Untuk memahami teks dengan sebaik-baiknya diperlukan pemahaman terhadap konteks situasi dan konteks budaya. Dalam pandangan Halliday, konteks situasi terdiri dari tiga unsur, yaitu medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana. Jones memandang medan wacana sebagai konteks situasi yang mengacu pada aktivitas sosial yang sedang terjadi serta latar institusional tempat satuan-satuan bahan itu muncul. Dalam medan wacana terdapat tiga hal yang perlu diungkap, yaitu ranah pengalaman, tujuan jangka pendek, dan tujuan jangka panjang.
Jones memandang pelibat wacana sebagai konteks situasi yang mengacu pada hakikat hubungan timbal balik antarpartisipan, termasuk pemahaman dan statusnya dalam konteks sosial dan linguistik. Ada tiga hal yang perlu diungkap dalam pelibat wacana, yaitu peran agen atau masyarakat, status sosial, dab jarak sosial. Ada tiga wacana tentang realitas sosial, yaitu:
1.      Wacana adalah bagian dari aktivitas sosial
2.      Representasi, yaitu suatu proses dari praktik-praktik sosial
3.      Wacana menggambarkan bagaimana sesuatu terjadi dalam identitas-identitas konstitusi
4.      Studi Kultural
Sebelum melangkah kepada pembahasan Analisis Wacana Kritis (AWK), maka perlu dibahas apa yang disebut Studi Kultural (SK). Studi ini mempunyai ciri-ciri yang dievaluasikan dalam lima prinsip, yaitu:
1)      SK mengkritisi praktik kebudayaan dalam hubungannya dengan kekuasaan.
2)      SK tidak terbatas pada kebudayaan dalam pengertian konvensional.
3)      SK bukan hanya gerakan intelektual, melainkan juga gerakan moral dan operasional demi perbaikan kinerja kebudayaan secara keseluruhan.
4)      SK berupaya membongkar penghalang-penghalang pengetahuan demi lancarnya lalu lintas antardisiplin ilmu dan pengetahuan.
5)      SK meyakini paham rekonstruktivisme dalam menelaah budaya.

Sumber :
Badara, Aris. 2012. Analisis wacana Teori, Metode, dan Penerapannya pada Wacana Media. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Darma, Yoce, A. 2014. Analisis Wacana Kritis. Bandung : PT. Refika Aditama.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

WACAN NARASI, DESKRIPSI, ARGUMENTASI, EKSPOSISI PERSUASI

WACANA MONOLOG, DIALOG, DAN POLILOG

KAJIAN WACANA BAHASA INDONESIA