PENGERTIAN TEKS KO-TEKS DAN TEKS KONTEKS
PENGERTIAN TEKS, KO-TEKS DAN KONTEKS
FITRI UMI ZAKIYAH
, PBSI 2014 C/
146042
a. Teks
Ada beberapa
pegertian yang dikemukakan oleh para ahli terkait dengan teks. Berdasarkan
beberapa pengertian yang dikemukan ahli tersebut secara keseluruhan hampir
sama. Luxemburg (1989) yang dikutip Tedi dalam makalahnya menyatakan bahwa teks
ialah ungkapan bahasa yang menurut isi, sintaksis, dan pragmatik merupakan satu
kesatuan. Teks dalam hal ini tidak hanya dipandang dari sisi tata bahasa yang
sifatnya tertulis atau unsur-unsur kebahasan yang dituliskan, lebih dari itu,
suatu teks juga dilihat dari segi maksud dan makna yang diujarankan. Teks
memiliki kesatuan dan kepaduan antara isi yang ingin disampaikan dengan bentuk
ujaran, dan situasi kondisi yang ada. Dengan kata lain, bahwa teks itu berupa
ungkapan berupa bahasa yang di dalamnya terdiri dari satu kesatuan antar isi,
bentuk, dan situasi kondisi penggunaannya.
Kridalaksana
(2011:238) dalam Kamus Linguistiknya menyatakan bahwa teks adalah (1) satuan
bahasa terlengkap yang bersifat abstrak, (2) deretan kalimat, kata, dan
sebagainya yang membentuk ujaran, (3) ujaran yang dihasilkan dalam
interaksi manusia. Dilihat dari tiga pengertian teks yang dikemukakan dalam
Kamus Linguistik tersebut dapat dikatakan bahwa teks adalah satuan bahasa yang
bisa berupa bahasa tulis dan bisa juga berupa bahasa lisan yang dahasilkan dari
interaksi atau komunikasi manusia.
Jadi,
berdasarkan adanya pandangan yang menganggap antara wacana dan teks merupakan
dua hal yang sama dan ada juga yang menganggap berbeda, hal itu disebabkan oleh
adanya sudut pandang yang berbeda. Situasi ini sangat bergantung dengan
realisasi penggunaan bahasa. Selain itu, juga berpedoman bahwa secara hierarki
gramatikal wacana merupakan satuan bahasa tertinggi yang lebih tinggi dari
kalimat atau klausa. Kalau mengacu dari pandangan ini wacana dapat disamakan
dengan teks. Teks merupakan data dalam analisis wacana, baik teks yang lisan
maupun tulis. Teks dalam hal ini mengacu pada bentuk transkripsi rangkaian
suatu kaliamat atau ujaran.
b. Ko-teks
Koteks diartikan
sebagai kalimat atau unsur-unsur yang mendahului dan/atau mengikuti sebuah
unsur lain dalam wacana.Koteks adalah teks yang mendampingi teks lain dan
mempunyai keterkaitan dan kesejajaran dengan teks yang didampinginya.
Keberadaan teks yang didampingi itu bisa terletak di depan (mendahului) atau di
belakang teks yang mendampingi (mengiringi). Sebagai contoh pada kalimat “Selamat
Datang” dan “Selamat Jalan” yang terdapat di pintu masuk suatu kota,
daerah, atau perkampungan. Kedua kalimat di atas memiliki keterkaitan. Kalimat
“Selamat Jalan” merupakan ungkapan dari adanya kalimat sebelumnya, yaitu
“Selamat Datang”. Kalimat “Selamat Datang” dapat dimaknai secara
utuh ketika adanya kalimat sesudahnya, yaitu “Selamat Jalan”, begitu juga
sebaliknya. Keberadaan koteks dalam suatu wacana menunjukkan bahwa struktur
suatu teks memiliki hubungan dengan teks lainnya. Hal itulah yang membuat suatu
wacana menjadi utuh dan lengkap. Ko-teks dapat menjadi alat bantu untuk
menganalisis wacana. Dalam wacana yang cukup panjang sering sebuah kalimat
harus dicarikan informasi yang jelas pada bagian kata yang lainnya
Contoh :
Markusen
adalah calon gubernur terkaya di negari ini. Tidak hanya itu, dia juga
seorang pengusaha dan mantan seorang dosen di salah satu PT ternama. Selain
itu, beliau juga dikenal sangat baik oleh masyarakatnya.
Analisis : Kata dia, beliau dan –nya yang
terdapat pada kalimat kedua dan ketiga di atas mengacu kepada Markusen pada
kaliamt pertama. Tafsiran itu didasarkan pada kalimat yang menyatakan
bahwa Markusen adalah calon gubernur terkaya di negari ini. Jadi,
Markusen pada kalimat itu menjadi koteks bagi dia, beliau dan -nya.
c. Konteks
Menurut Brown
& Yule (1983) konteks adalah lingkungan atau keadaan tempat bahasa digunakan.
Halliday & Hasan (1994) mengatakan hafiah konteks berarti “something
accompanying text”, yaitu sesuatu yang inheren dan hadir bersama teks, sehingga
dapat diartikan konteks sebagai situasi atau latar terjadinya suatu komunikasi.
Kemudian, menurut Mulyana (2005: 21) konteks dapat dianggap sebagai sebab dan
alasan terjadinya suatu pembicaraan/dialog. Segala sesuatu yang berhubungan
dengan tuturan, apakah itu berkaitan dengan arti, maksud, maupun informasinya,
sangat tergantung pada konteks yang melatarbelakangi peristiwa tuturan itu.
Seperti terpola dari bagan berikut.
Proses Peristiwa
Bertutur
Pembicara
(O1)
Pasangan Bicara (O2)
Maksud (pra ucap) pemahaman
(pascaucap)
Pensandian (encoding) pembacaan sandi
(decoding)
Pengucapan
(fonasi)
penyimakan (audisi)
Sumber: Mulyana,
(2005:21) Konteks yang berkaitan dengan partisipan (penutur) juga sangat
berperan dalam memahami makna dan informasi tuturan. Misalnya muncul tuturan
berikut ini. “Saya ingin turun. Sudah capek.” Kalau yang mengucapkan tuturan
itu adalah seorang pejabat atau politisi, maka sangat mungkin yang dimaksud
dengan turun adalah ‘turun dari jabatan’. Namun, pengertian itu bisa keliru
bila tuturan itu, misalnya, diucapkan oleh anak kecil yang sedang memanjat
pohon. Maknanya bisa berubah drastis, yaitu ‘turun dari pohon’. Singkat kata,
untuk mendapatkan pemahaman wacana yang menyeluruh, konteks harus dipahami dan
dianalisi secara mutlak.
Contohnya :
Dialog I
Pembicara :
Ibu
Pendengar : Bapak
Tempat : Rumah
Situasi :
Sedang menunggu anaknya kembali dari rumah pamannya karena mengambil sesuatu
yang dipinjam
Waktu : Pukul 09.00 Wib.
Ketika si anak
kembali, si ibu mengatakan, “Cepat sekali kamu pulang.”
Dialog II
Pembicara : Ibu
Pendengar : Bapak
Tempat : Rumah
Situasi : Menunggu anaknya yang belum
kembali dari rumah temannya
Waktu : Pukul 00.00 Wib
Ketika si anak
datang, si Ibu mengatakan, “Cepat sekali kamu pulang”.
Analisis : Kalimat
“Cepat sekali kamu pulang” yang diucapkan si ibu pada dialog I dan II memiliki
bentuk yang sama, tetapi maknanya berbeda. Kalimat pada dialog I, si ibu
sungguh-sungguh mengatakan bahwa anaknya sangat cepat kembali dari rumah paman
atau dapat dikatakan si Ibu memuji anaknya yang melaksanakan perintah/kerja
dengan cepat. Berbeda dengan dialog II, kalimat itu memiliki makna sindiran pada
anaknya yang terlambat pulang ke rumah. Kata “Cepat sekali kamu pulang” pada
kalimat dialog II bukan makna sebenarnya yang menyakan si anak pulang dengan
cepat, malah sebaliknya, yaitu pulangnya lambat.
Hal ini harus
diterangkan secara pragmatik karena kata-kata maupun kalimatnya secara semantik
tidak memperlihatkan arti sindiran. Dengan begitu, pendengar atau pembaca harus
mengetahui konteks kalimat tersebut agar dapat mengetahui maksut suatu kaliamt
itu dengan tepat. Begitu pentingnya mengetahui konteks sebuah kalimat atau
wacana karena hal itu dapat menimbulkan perbedaan antara dua kalimat yang sama
seperti yang ada dalam contoh di atas. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
perbedaan konteks mengakibatkan perbedaan makna.
Berdasarkan
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa konteks adalah ruang dan waktu yang
meliputi lingkungan fisik dan sosial tertentu dalam memahami suatu teks. Teks
yang dimaksud dalam hal ini tidak hanya teks-teks yang dilisankan dan yang
ditulis, melainkan termasuk pula kejadian-kejadian yang nirkata (nonverbal)
lainnya atau keseluruhan lingkungan teks itu. Selain itu, konteks juga dianggap
sebagai penyebab terjadinya suatu pembicaraan atau interaksi komunikasi.
Sumber
: Sumarlam dkk. (2003). Teori dan Prktik Analisis Wacana.
Surakarta: Pustaka Cakra.
10 things to know about the SEGA Genesis Mini - Sporting News
BalasHapusAs the Genesis looms large at the height of its 16-bit glory and its ability to rival Nintendo's SNES Mini rival the SNES Classic, it's 토토 사이트 코드 been a