PRAANGGAPAN, IMPLIKATUR DAN INFERENSI DIEKSIS
“PRAANGGAPAN,
IMPLIKATUR, DAN INFERENSI DEIKSIS”
FITRI UMI
ZAKIYAH,
PBSI 2104 C
/ 146042
A.
PRAANGGAPAN
1.
PENGERTIAN
Secara
etimologi praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to pre-suppose,
yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga
sebelumnya), dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia
sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang
dibicarakan.
Nababan dalam
Eva (2012: 11) mengemukakan bahwa praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan
dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa yang membuat bentuk bahasa yang
mempunyai makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu dan sebaliknya membantu
pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dipakainya untuk mengungkapkan
makna atau pesan yang dimaksud.
Menurut Lubis
dalam Eva (2012: 11-12) Praanggapan pragmagtik membedakan dua konsep, yakni (1)
pranggapan semantik, dan (2) praanggapan pragmatik. Praanggapan semantik adalah
bila suatu pernyataan dapat ditarik praanggapannya melalui leksikon. Praanggapan
pragmatik adalah bila suatu pernyataan dapat ditarik praanggapannya melalui
konteks. Jadi, suatu ujaran tidak selalu dapat ditanggakap maknanya hanya
dengan mengetahui ujaan itu saja, tetapi ujaran itu harus ditambah dengan
pengetahuan bersama yang dimiliki oleh pesapa sehingga makna sebuah ujaran
dapat dipahami.
Praanggapan
telah didefinisikan dengan berbagai macam cara, namun secara umum berarti
asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan
linguistik tertentu (Cummings, 2007: 42). Menurut Yule dalam Eva (2012: 12)
Praanggapan adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian
sebelum menghasilkan suatu tuturan.
Dari kutipan
pendapat para ahli tersebut dapat diartikan bahwa praanggapan merupakan suatu
anggapan awal yang secara tersirat dimiliki oleh sebuah ungkapan kebahasaan
sebagai wujud tanggapan awal pendengar dalam merespon suatu ungkapan
kebahasaan.
Contoh: “ Iqbal telah berhenti mengayuh sepedanya”
Dalam kalimat tersebut terkandung beberapa praanggapan yang
mendukung arti kalimat itu sendiri, yaitu:
(a) Iqbal tentunya memiliki
sepeda.
(b) Sebelum pernyataan itu diungkapkan
sebelumnya Iqbal pastilah sedang mengayuh sepedanya.
“Kayawan pendiam itu paling rajin dibanding yang lain”
Praanggapan yang bisa saja muncul dari kalimat tersebut
adalah seorang karyawan yang pendiam namun rajin. Apabila pada kenyataannya
memang ada seorang karyawan yang pendiam dan rajin, ukuran ini dapat dinilai
benar atau salahnya. Sebaliknya apabila di tempat kerja tidak ada karyawan yang
pendiam dan rajin, makaukuran tersebut tidak dapat ditentukan benar atau
salahnya.
2.
CIRI
Ciri praanggapan yang mendasar
adalah sifat keajegan di bawah penyangkalan (Yule, 2006:45). Hal
ini memiliki maksud bahwa praanggapan (presuposisi) suatu pernyataan akan tetap
ajeg (tetap benar) walaupun kalimat itu dijadikan kalimat negatif atau
dinegasikan. Sebagai contoh perhatikan beberapa kalimat berikut :
(4) a: “Gitar Budi itu baru”.
b:
“Gitar Budi tidak baru”.
Kalimat (b) merupakan bentuk negatif
dari kaliamt (4a). Praanggapan dalam kalimat (4a) adalah Budi mempunyai gitar.
Dalam kalimat (b), ternyata praanggapan itu tidak berubah meski kalimat (b)
mengandung penyangkalan tehadap kalimat (4a), yaitu memiliki praanggapan yang
sama bahwa Budi mempunyai gitar.
Wijana (dikutif, 2009:64) menyatakan
bahwa sebuah kalimat dinyatakan mempresuposisikan kalimat yang lain jika
ketidakbenaran kalimat yang kedua (kalimat yang diprosuposisikan) mengakibatkan
kalimat pertama (kalimat yang memprosuposisikan) tidak dapat dikatakan benar
atau salah. Untuk memperjelas pernyataan tersebut perhatikan contoh berikut.
(5) a. “Istri pejabat itu cantik
sekali”
b. “Pejabat itu mempunyai istri”.
Kalimat (b) merupakan praanggapan
(presuposisi) dari kalimat (5a). Kalimat tersebut dapat dinyatakan benar atau
salahnya bila pejabat tersebut mempunyai istri. Namun, bila berkebalikan dengan
kenyataan yang ada (pejabat tersebut tidak mempunyai istri), kalimat tersebut
tidak dapat ditentukan kebenarannya.
3.
JENIS
Praanggapan
(presuposisi) sudah diasosiasikan dengan pemakaian sejumlah besar kata, frasa,
dan struktur (Yule, 2006:46). Selanjutnya Gorge Yule mengklasifikasikan
praanggapan ke dalam 6 jenis praanggapan, yaitu presuposisi eksistensial,
presuposisi faktif, presuposisi non-faktif, presuposisi leksikal, presuposisi
struktural, dan presuposisi konterfaktual.
v Presuposisi
Esistensial
Presuposisi (praanggapan) eksistensial adalah
preaanggapan yang menunjukkan eksistensi/ keberadaan/ jati diri referen yang
diungkapkan dengan kata yang definit.
a. Orang itu berjalan
b. Ada orang berjalan
v Presuposisi
Faktif
Presuposisi (praanggapan) faktif adalah praanggapan di
mana informasi yang dipraanggapkan mengikuti kata kerja dapat dianggap sebagai
suatu kenyataan.
a. Dia tidak menyadari bahwa ia sakit
b. Dia sakit
v Presuposisi
Leksikal
Presuposisi (praanggapan) leksikal dipahami sebagai
bentuk praanggapan di mana makna yang dinyatakan secara konvensional
ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lain (yang tidak dinyatakan)
dipahami.
a. Dia berhenti merokok
b. Dulu dia biasa merokok
v Presuposisi
Non-faktif
Presuposisi (praanggapan) non-faktif adalah suatu
praanggapan yang diasumsikan tidak benar.
a. Saya membayangkan berada di Hawai
b. Saya tidak berada di Hawai
v Presuposisi
Struktural
Presuposisi (praanggapan) struktural mengacu pada
sturktur kalimat-kalimat tertentu telah dianalisis sebagai praanggapan secara
tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan
kebenarannya. Hal ini tampak dalam kalimat tanya, secara konvensional
diinterpretasikan dengan kata tanya (kapan dan di mana) seudah diketahui
sebagai masalah.
a. Kapan dia pergi?
b. Dia pergi
v Presuposisi
konterfaktual
Presuposisi (praanggapan) konterfaktual berarti bahwa
yang di praanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan
(lawan) dari benar atau bertolak belakang dengan kenyataan.
a.
Seandainya ibu kota Jawa Barat ada di Sumedang.
b. Ibu kota Jawa Barat bukan di Sumedang.
B.
IMPLIKATUR
1.
PENGERTIAN
Konsep
implikatur kali pertama dikenalkan oleh H.P. Grice (1975) untuk memecahkan persoalan makna bahasa yang
tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Implikatur dipakai untuk
memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai
hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah (Brown dan Yule
1983:1). Makna tersirat (implied meaning) atau implikatur adalah makna atau
pesan yang tersirat dalam ungkapan lisan dan atau wacana tulis. Kata lain
implikatur adalah ungkapan secara tidak langsung yakni makna ungkapan tidak
tercermin dalam kosa kata secara literal.Dalam pemakaian bahasa terdapat
implikatur yang disebut implikatur konvensional, yaitu implikatur yang
ditentukan oleh ‘arti konvensional kata-kata yang dipakai’.
Contoh:
(a) Dia orang Palembang karena itu dia
pemberani.
Pada contoh (a) tersebut, penutur tidak secara langsung menyatakan
bahwa suatu ciri (pemberani) disebabkan oleh ciri lain (jadi orang Palembang),
tetapi bentuk ungkapan yang dipakai secara konvensional berimplikasi bahwa
hubungan seperti itu ada. Kalau individu itu dimaksud orang Palembang dan tidak
pemberani, implikaturnya yang keliru tetapi ujaran tidak salah.
Ada empat macam faedah konsep
implikatur, yaitu
a.
Dapat memberikan penjelasan makna
atau fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori-teori linguistik.
b.
Dapat memberikan penjelasan yang
tegas tentang perbedaan lahiriah dari yang dimaksud si pemakai bahasa.
c.
Dapat memberikan pemberian semantik
yang sederhana tentang hubungan klausa yang dihubungkan denagn kata
penghubung yang sama.
d.
Dapat memberikan berbagi fakta yang
secara lahiriah kelihatan tidak berkaitan, malah berlawanana (seperti
metafora).
2.
CIRI-CIRI
Gunarwan
(dalam Rustono, 1999:89 via guru-umarbakri.blogspot.com)
menegaskan adanya tiga hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan implikatur,
yaitu:
(1) implikatur bukan merupakan bagian dari
tuturan,
(2) implikatur bukanlah akibat logis
tuturan,
(3) sebuah tuturan memungkinkan memiliki
lebih dari satu implikatur, dan itu bergantung pada konteksnya.
3.
JENIS
a.
Implikatur Percakapan
Asumsi dasar percakapan adalah jika tidak ditunjukan
sebaliknya bahwa peserta tuturnya mengikuti maksim-maksim prinsip kerja sama.
Maksim adalah pernyataan ringkas yang mengandung ujaran atau kebenaran umum
tentang sifat-sifat manusia. Untuk memperjelas, berikut contohnya:
Lisa: Nanti, kamu bawakan aku kue
pelangi dan jus jeruk, ya.
Mona: Oke, aku akan bawakan kamu kue
pelangi.
Pada
contoh tuturan di atas, Lisa berasumsi bahwa Mona melakukan kerja sama. Namun,
Mona tidak sadar sepenuhnya maksud Lisa tentang maksim kuantitas karena Mona
tidak menyebutkan jus jeruk. Jika membawakan jus jeruk, maka Mona akan
mengatakannya karena ia ingin memenuhi maksim kuantitas. Lisa seharusnya menyimpulkan
bahwa apa yang dia katakan melalui suatu implikatur percakapan. Sebab,
penuturlah yang menyampaikan makna melalui implikatur dan sosok yang mengenali
makna-makna yang disampaikan lewat inferensi.
b. Implikatur
Percakapan Umum
Implikatur percakapan khusus tidak dipersyaratkan untuk
memperhitungkan makna tambahan yang disampaikan, maka disebut implikatur
percakapan umum.
Contoh:
Pada suatu hari saya duduk di sebuah
taman. Sepasang kekasih pun duduk di salah satu bangku taman itu.
Contoh
implikatur pada tuturan di atas adalah bahwa taman dan pasangan kekasih
bukanlah milik penutur dan tak dikenali penutur. Apabila penutur lebih spesifik
menuturkan, maka bisa jadi kebun dan sepasang kekasih yang dimaksudkannya
dikenalinya. Misalnya, Pada suatu hari saya duduk di tamanku. Sepasang kekasih
yang kukenalpun duduk di salah satu bangku tamanku itu.
c. Implikatur
Berskala
Informasi selalu disampaikan dengan memilih sebuah kata yang
menyatakan suatu nilai dari suatu skala nilai.Ini secara khusus tampak jelas
dalam istilah-istilah untuk mengungkapkan kuantitas, seperti yang ditunjukkan
dalam sebuah skala, ketika istilah-istilah itu didaftar dari skala nilai
tertinggi ke nilai terendah.
Contohnya:
semua, sebagian besar, banyak,
beberapa, sedikit selalu, sering, kadang-kadang.
"Saya
sedang belajar ilmu bahasa dan saya telah melengkapi beberapa mata kuliah yang dipersyaratkan."
Dengan
memilih kata "beberapa" dalam contoh tuturan di atas penutur
menciptakan suatu implikatur. Ini yang disebut implikatur berskala. Implikatur
berskala adalah semua bentuk negatif dari skala yang lebih tinggi yang
dilibatkan apabila dalam skala itu dinyatakan.
d. Implikatur
Percakapan Khusus
Pada sebuah percakapan, implikatur telah diperhutangkan
tanda adanya pengetahuan khusus terhadap konteks tertentu. Akan tetapi,
seringkali percakapan kita terjadi dalam konteks yang sangat khusus.
Inferensi-inferensi yang demikian dipersyaratkan untuk menentukan maksud yang
disampaikan menghasilkan implikatur percakapan khusus.
Mira: Apakah kamu suka es krim?
Anton: Apa itu Magnum Gold?
Mira
bertanya apakah lawan tuturnya menyukai es krim atau tidak. Akan tetapi, Anton
sebagai lawan tutur tidak menjawab ya atau tidak. Namun, keduanya melakukan
kerja sama. Mira tidak memerlukan jawaban ya, namun sudah mengerti kalau Anton
menyukai es krim karena menyebutkan merek es krim terkenal. Artinya, Anton
menunjukkan ketertarikan terhadap es krim.
e. Implikatur
Konvensional
Implikatur konvensional tidak didasarkan pada prinsip kerja
sama atau maksim-maksim. Implikatur konvensional tidak harus terjadi dalam
percakapan,dan tidak langsung pada konteks khusus untuk mengiterpretasikannya.
Implikatur konvensional diasosiasikan dengan kata-kata khusus dan menghasilkan
maksud tambahan apabila yang disampaikan apabila kata-kata itu digunakan. Kata
penghubung "tetapi" adalah salah satu kata-kata ini.
Contoh;
Indi menyarankan warna hitam, tetapi
saya ingin warna putih.
Istilah implikatur
berantonim dengan kata eksplikatur. Menurut Grice (Brown & Yule, 1986:31
dalam Abdul Rani (2006), istilah implikatur diartikan sebagai “what a speaker
can imply, or mean, as distinct from what a speaker literally says”. Senada
dengan itu, Pratt menyatakan (1981; 1977 via Abdul Rani) “what is said is
implicated together from the meaning of the utterance in that context.” Dari
pengertian dia atas. diketahui bahwa implikatur adalah makna tidak langsung
atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur).
Menggunakan implikatur dalam berkomunikasi berarti menyatakan sesuatu secara tidak
langsung.
Contoh:
(5) (Konteks: Udara sangat dingin. Seorang suami yang mengatakan pada istrinya yang sedang berada di sampingnya).
(5) (Konteks: Udara sangat dingin. Seorang suami yang mengatakan pada istrinya yang sedang berada di sampingnya).
Suami : “Dingin sekali!”
Transkip ujaran
suami yang tidak disertai dengan konteks yang jelas dapat ditafsirkan bermacam-macam,
antara lain:
ü (5a) permintaan kepada istrinya untuk
mengembalikan baju hangat, jaket, atau selimut, atau minuman hangat untuk
menghangatkan tubuhnya
ü (5b) permintaan kepada istrinya untuk menutup
jendela agar angin tidak masuk kamar sehingga udara di dalam ruangan menjadi
hangat.
ü (5c) pemberitahuan kepada istrinya secara tidak
langsung bahwa kesehatannya sedang terganggu.
ü (5d) permintaan kepada istrinya agar ia
dihangati dengan tubuhnya.
Makna
dari keempatnya tersebut merupakan makna implikatur. Makna umum secara tersurat
(literal), yang biasa disebut eksplikatur, contoh di atas adalah “informasi
bahwa keadaan (saat itu) sangat dingin”. Dari sini, terlihat jelas perbedaan
makna implikatur dan ekplikatur.
Dari
penjelasan di atas, ternyata implikatur dapat dibedakan menjadi beberapa macam
berdasarkan bentuk eksplikaturnya. Berikut ini paparannya lebih lanjut:
1.
Implikatur
yang berupa makna yang tersirat dari sebuah ujaran (between the line),
merupakan implikatur yang sederhana.
2.
Implikatur
yang berupa makna yang tersorot dari sebuah ujaran (beyond the line), yang
merupakan lanjutan dari implikatur yang pertama.
3.
Implikatur
yang berkebalikan dengan eksplikaturnya. Meskipun berkebalikan, hal itu pada
umumnya tidak menimbukan pertentangan logika.
C.
INFERENSI
1.
PENGERTIAN
Sebuah pekerjaan bagai pendengar (pembaca) yang
selalu terlibat dalam tindak tutur selalu harus siap dilaksanakan ialah
inferensi. Inferensi dilakukan untuk sampai pada suatu penafsiran makna tentang
ungkapan-ungkapan yang diterima dan pembicara atau (penulis). Dalam keadaan
bagaimanapun seorang pendengar (pembaca) mengadakan inferensi. Pengertian
inferensi yang umum ialah proses yang harus dilakukan pembaca (pendengar) untuk
melalui makna harfiah tentang apa yang ditulis (diucapkan) sampai pada yang
diinginkan oleh saorang penulis (pembicara).
Inferensi adalah membuat simpulan berdasarkan
ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam membuat inferensi perlu
dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna
tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur). Inferensi
atau kesimpulan sering harus dibuat sendiri oleh pendengar atau pembicara
karena dia tidak mengetahui apa makna yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh
pembicara/penulis. Karena jalan pikiran pembicara mungkin saja berbeda dengan
jalan pikiran pendengar, mungkin saja kesimpulan pendengar meleset atau bahkan
salah sama sekali. Apabila ini terjadi maka pendengar harus membuat inferensi
lagi. Inferensi terjadi jika proses yang harus dilakukan oleh pendengar atau
pembaca untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat pada tuturan
yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis. Pendengar atau pembaca dituntut
untuk mampu memahami informasi (maksud) pembicara atau penulis.
Inferensi adalah proses yang harus dilakukan oleh pendengar
atau pembaca untuk memahami makna secara harfiah tidak terdapat dalam wacana
yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis, yaitu dengan membuat simpulan
berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam membuat inferensi perlu
dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna
tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur).
2.
JENIS
Untuk
menarik sebuah kesimpulan (inferensi) perlu kita mengetahui jenis-jenis
inferensi, antara lain;
Ø Inferensi
Langsung
Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari hanya satu premis
(proposisi yang digunakan untuk penarikan kesimpulan). Konklusi yang ditarik
tidak boleh lebih luas dari premisnya. Contoh:
Pohon yang di tanam pak Budi setahun
lalu hidup.
Dari premis tersebut dapat kita lansung menarik kesimpulan
(inferensi) bahwa: pohon yang ditanam pak budi setahun yang lalu tidak mati.
Ø Inferensi
Tak Langsung
Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari dua atau lebih
premis. Proses akal budi membentuk sebuah proposisi baru atas dasar
penggabungan proposisi-preposisi lama. Contoh:
a : Saya melihat ke dalam kamar itu.
b : Plafonnya sangat tinggi.
Sebagai Inferensi yang menjembatani
kedua ujaran tersebut, misalnya: kamar itu memiliki plafon.
Ø Inferensi Elaboratif
adalah
urutan dari sederhana-ke-kompleks atau dari umum-ke-rinci, yang memiliki
karakteristik khusus. Inferensi elaboratif memiliki peran dalam interpretasi
ujaran. Cummings (1999) menggambarkan adanya integrasi interpretasi ujaran dari
tiga subkomponen yang berpa abstrak (pengetahuan dunia), abstrak (pengetahuan
komunikatif), dan fungsional (interferensi elaboratif). Contoh:
Dalam mengajar Sejarah, seseorang dapat saja mulai dengan
memberikan rangkuman mengenai peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah,
kemudian menjelaskan rincian peristiwa-peristiwa penting itu.
Ini dirinci dalam satu tahap sampai mencapai tingkat keterincian yang sudah dispesifikasi oleh tujuan.
Ini dirinci dalam satu tahap sampai mencapai tingkat keterincian yang sudah dispesifikasi oleh tujuan.
Ø Inferensi Percakapan
Dalam percakapan menuntut hadirnya komponen tutur. Jhon L. Austin
(1962) menyatakan ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam tuturan
performatif, syarat itu disebut felicity conditions, yaitu (1) pelaku dan
situasi harus sesuai, (2) tindakah dilaksanakan dengan lengkap dan benar oleh
semua pelaku, dan (3) pelaku punya maksud yang sesuai.
Inferensi percakapan dapat terjadi dalam tuturan/percakapan. Grice (1975) dalam artikel ‘Logic and Conversation’ menyatakan bahwa tuturan dapat berimplikasi proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut, atau disebut implikatur percakapan. Untuk mengetahui implikatur percakapan harus diteliti meskipun dapat dipahampi secara intuitif. Argumen merupakan manifestasi proses bawah sadar secara publik dapat digunakan pendengar untuk menemukan kembali implikatur percakapan.
Inferensi percakapan dapat terjadi dalam tuturan/percakapan. Grice (1975) dalam artikel ‘Logic and Conversation’ menyatakan bahwa tuturan dapat berimplikasi proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut, atau disebut implikatur percakapan. Untuk mengetahui implikatur percakapan harus diteliti meskipun dapat dipahampi secara intuitif. Argumen merupakan manifestasi proses bawah sadar secara publik dapat digunakan pendengar untuk menemukan kembali implikatur percakapan.
D.
DEIKSIS
1.
PENGERTIAN
Dieksis adalah istilah teknis (dari
bahasa Yunani) untuk salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan.
Deiksis berarti Penunjukan melalui bahasa. Bentuk linguistic yang dipakai untuk
menyelesaikan penunjukan disebut ungkapan deiksis. Dengan kata lain informasi
kontekstual secara leksikal maupun gramatikal yang menunjuk pada hal tertentu
baik benda, tempat, ataupun waktu itulah yang disebut dengan deiksis, misalnya
he, here, now. Ketiga ungkapan itu memberi perintah untuk menunjuk konteks
tertentu agar makna ujaran dapat di pahami dengan tegas.Tenses atau kala juga
merupakan jenis deiksis. Misalnya then hanya dapat di rujuk dari situasinya.
Deiksis juga didefinisikan sebagai ungkapan yang terikat dengan konteksnya.
Contohnya dalam kalimat “Saya mencintai dia”, informasi dari kata ganti “saya”
dan “dia” hanya dapat di telusuri dari konteks ujaran. Ungkapan-ungkapan yang
hanya diketahui hanya dari konteks ujaran itulah yang di sebut deiksis.
Lavinson (1983) memberi contoh berikut untuk
menggambarkan pentingnya informasi deiksis. Misalnya anda menemukan sebuah
botol di pantai berisi surat di dalamnya dengan pesan sebagai berikut : (1) Meet me here a week from now with a
stick about this big.
Pesan ini tidak memiliki latar belakang kontekstual sehingga
sangat tidak informatif. Karena unkapan deiksis hanya memiliki makna ketika
ditafsirkan oleh pembaca. Pada dasarnya ungkapan deiksis ini masuk dalam ranah
pragmatik. Namun karena penemuan makna ini sangat penting untuk mengetahui maksud
dan kondisi yang sebenarnya maka pada saat yang sama masuk dalam ranah
semantik.
Dengan kata lain dalam kasus ungkapan
deiksis, proses pragmatik dalam mencari acuan masuk dalam semantik. Umumnya
kita dapat mengatakan ungkapan deiksis merupakan bagian yang mengacu pada
ungkapan yang berkaitan dengan konteks situasi, wacana sebelumnya, penunjukan,
dan sebagainya.
Deiksis dapat juga diartikan sebagai
lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang
sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi
ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara
(Lyons, 1977: 637 via Djajasudarma, 1993: 43).
Pengertian deiksis dibedakan dengan
pengertian anafora. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan, dimana yang
menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara, yang tidak merupakan
unsur di dalam bahasa itu sendiri, sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik
yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada
di depan (Lyons, 1977: 638 via Setiawan, 1997: 6).
Berdasarkan beberapa pendapat, dapat
dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada
kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi
pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk,
pronomina, dan sebagainya. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada
bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. Perujukan dapat pula
ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. Bentuk rujukan seperti itu
disebut dengan katafora.
Fenomena deiksis merupakan cara yang
paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam
struktur bahasa itu sendiri. Kata seperti saya, sini, sekarang adalah kata-kata
deiktis. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. Referen kata saya,
sini, sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa, di
tempat mana, dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. Jadi, yang menjadi pusat
orientasi deiksis adalah penutur.
Deiksis berasal dari kata Yunani
kuno yang berarti “menunjukkan atau menunjuk”. Dengan kata lain informasi
kontekstual secara leksikal maupun gramatikal yang menunjuk pada hal tertentu
baik benda, tempat, ataupun waktu itulah yang disebut dengan deiksis. Deiksis
adalah kata atau frasa yang menghunjuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang
telah dipakai atau yang akan diberikan (Agustina, 1995:40). Sebuah kata
dikatakan bersifat deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau
berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi si pembicara dan tergantung
pada saat dan tempat dituturkannya kata itu.
Perhatikan
contoh kalimat berikut.
a. Begitulah isi sms yang dikirimkannya
padaku dua hari yang lalu.
b. Hari
ini bayar, besok gratis.
c. Jika Anda berkenan,
di tempat ini Anda dapat menunggu saya dua jam lagi.
Dari
contoh di atas, kata-kata yang dicetak miring dikategorikan sebagai dieksis.
Pada kalimat (a) yang dimaksud dengan begitulah tidak bisa diketahui karena
uraian berikutnya tidak dijelaskan. Pada kalimat (b) kapan yang dimaksud dengan
hari ini dan besok juga tidak jelas, karena kalimat itu terpampang setiap hari
di sebuah kafetaria. Pada kalimat (b) kata Anda tidak jelas rujukannya, apakah
seorang wanita atau pria, begitu juga frasa di tempat ini lokasinya tidak
jelas.
Semua kata dan frasa yang tidak
jelas pada kalimat di atas dapat diketahui jika konteks untuk masing-masing
kalimat tersebut disertakan. Dalam berpragmatik kalimat seperti di atas wajar
hadir di tengah-tengah pembicaraan karena konteks pembicaraan sudah disepakati
antara si pembicara dan lawan bicara.
2.
JENIS
Dalam
kajian pragmatik, deiksis dapat dibagi menjadi jenis-jenis seperti diuraikan
berikut ini.
Ø Deiksis
Orang
Dalam kategori deiksis orang, yang menjadi kriteria adalah
peran pemeran serta dalam peristiwa berbahasa tersebut (Nababan, 1987:41).
Bahasa Indonesia mengenal pembagian kata ganti orang menjadi tiga yaitu, kata
ganti orang pertama,orang kedua, dan orang ketiga.
Dalam sistem ini, orang pertama ialah kategori rujukan
pembicara kepada dirinya sendiri, seperti saya, aku, kami, dan kita. Orang
kedua adalah kategori rujukan kepada seseorang (atau lebih) pendengar atau
siapa yang dituju dalam pembicaraan, seperti kamu, engkau, anda, dan kalian.
Orang ketiga adalah kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara dan
bukan pula pendengar, seperti dia, ia, beliau, -nya, dan mereka. Contoh
pemakaian deiksis orang dapat dilihat dalam kalimat-kalimat berikut.
(a) Mengapa hanya saya yang diberi tugas berat
seperti ini?
(b) Saya melihat mereka di pasar kemarin.
Kata-kata yang dicetak miring seperti contoh-contoh tersebut
di atas adalah contoh dari kata-kata yang digunakan sebagai penunjuk dalam
dieksis orang. Contoh kata seperti itu dipakai dalam percakapan sebagai
pengganti atau rujukan dari yang dimaksud dalam suatu peristiwa berbahasa.
Ø Dieksis
Tempat
Ø Dieksis
tempat adalah pemberian bentuk kepada lokasi ruang atau tempat yang dipandang
dari lokasi pemeran serta dalam peristiwa berbahasa itu. Dalam berbahasa, orang
akan membedakan antara di sini, di situ dan di sana. Hal ini dikarenakan disini
lokasinya dekat dengan si pembicara, di situ lokasinya tidak dekat pembicara,
sedangkan di sana lokasinya tidak dekat dari si pembicara dan tidak pula dekat
dari pendengar. Contoh penggunaan dieksis tempat dapat dilihat pada
kalimat-kalimat berikut.
(a) Tempat itu terlalu jauh baginya,
meskipun bagimu tidak.
(b) Duduklah bersamaku di sini.
Kata-kata yang dicetak miring seperti contoh-contoh tersebut
di atas adalah contoh dari kata-kata yang digunakan sebagai penunjuk dalam
deiksis tempat.
Ø Deiksis
Waktu
Deiksis waktu adalah pengungkapan atau pemberian bentuk
kepada titik atau jarak waktu yang dipandang dari waktu sesuatu ungkapan
dibuat. Contoh deiksis waktu adalahkemarin, lusa, besok, bulan ini, minggu
ini, atau pada suatu hari.
Ø Kalimat-kalimat
berikut adalah contoh pemakaian dari kata penunjuk deiksis waktu.
a. Dalam
rangka menyambut hari raya Idul Fitri, yang bernama Fitri dapat makan gratisbesok.
(tulisan di sebuah restoran)
b. Gaji bulan
ini tidak seberapa yang diterimanya.
c.
Saya tidak dapat menolong Anda sekarang
ini.
Ø Deiksis
Wacana
Deiksis wacana adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu
dalam wacana yang telah diberikan atau yang sedang dikembangkan. Deiksis wacana
ditunjukkan oleh anafora dan katafora. Sebuah rujukan dikatakan bersifat
anafora apabila perujukan atau penggantinya merujuk kepada hal yang sudah
disebutkan. Senada dengan hal itu, anafora adalah hal atau fungsi yang menunjuk
kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam kalimat atau
wacana. Contoh kalimat yang bersifat anafora dapat dilihat dalam kalimat
berikut.
a. Wati
belum mendapatkan pekerjaan, padahal dia sudah diwisuda dua
tahun yang lalu.
b. Joni
baru saja membeli mobil BMW. Warnanya merah dan harganya jangan
ditanya.
Sebuah rujukan atau referen dikatakan bersifat katafora jika
rujukannya menunjuk kepada hal yang akan. Contoh kalimat yang bersifat katafora
dapat dilihat dalam kalimat berikut.
(a) Di sini, digubuk tua ini mayat itu
ditemukan.
(b) Setelah dia masuk, langsung Toni
memeluk adiknya.
Ø Deiksis
Sosial
Deiksis sosial adalah mengungkapkan atau menunjukkan
perbedaan ciri sosial antara pembicara dan lawan bicara atau penulis dan
pembaca dengan topik atau rujukan yang dimaksud dalam pembicaraan itu. Contoh
deiksis sosial misalnya penggunaan kata mati, meninggal, wafat dan mangkat
untuk menyatakan keadaan meninggal dunia. Masing-masing kata tersebut berbeda
pemakaiannya. Begitu juga penggantian kata pelacur dengan tunasusila, kata
gelandangan dengan tunawisma, yang kesemuanya dalam tata bahasa disebut eufemisme
(pemakaian kata halus). Selain itu, deiksis sosial juga ditunjukkan oleh sistem
honorifiks (sopan santun berbahasa). Misalnya penyebutan pronomina persona
(kata ganti orang), seperti kau, kamu, dia, dan mereka, serta penggunaan sistem
sapaan dan penggunaan gelar. Contoh pemakaian deiksis sosial adalah pada
kalimat berikut.
(a) Apakah saya bisa menemui Bapak hari
ini?
(b) Saya harap Pak Haji berkenan memenuhi
undangan saya.
Sumber :
Chaer, Abdul dan Leoni Agustin.
1995. Sosiolinguistik Pengenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana. Hari Muriti.
1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.
Nababan, P.W.J.1984. Sosiolinguistik
Suatu Pengantar. Jakarta: PT Remeja Rusdakarya.
Rani, A. Arifin, B. dan Martutik.
2004. Analisis Wancana Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian.
Malang: Bayumedia Publishing.
https://edisuryadimaranaicindo.wordpress.com/2012/03/01/aspek-aspek-pragmatik-tindak-tutur-praanggapan-dan-implikatur-2/
(diunduh pada tanggal 13 Mei 2017, 18.00)
Komentar
Posting Komentar