HAKIKAT DAN KEDUDUKAN WACANA DALAM LINGUISTIK



HAKIKAT DAN KEDUDUKAN WACANA DALAM LINGUISTIK
FITRI UMI ZAKIYAH , PBSI 2014 C/ 146042

A.      HAKIKAT WACANA
1.  Pengertian Wacana 
Menurut Chaer (2007:265) menyebutkan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hirarki bahasa merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana sebagai satuan gramatikal yang lengkap, harus terdapat konsep, gagasan, pikiran, dan ide yang utuh, yang akan dipahami oleh pembaca dalam bentuk wacana lisan dan oleh pendengar dalam bentuk wacana lisan. 
Menurut Kridalaksana (1984:208) menyatakan bahwa definisi wacana merupakan satuan kebahasaa terlengkap yang dalam hirarki bahasa merupakan satuan gramatikal yang terbesar. Wacana dapat direalisasikan dalam bentuk kata, kalimat, paragraf atau karangan utuh yang membawa amanat lengkap.
Pengertian lain mengenai wacana adalah suatu bentuk komunikasi verbal yang terdiri dari wacana lisan dan wacana tulis jika dilihat dari bentuk bahasa yang digunakan. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian wacana adalah serangkaian satuan gramatikal yang tersusun secara utuh dan membentuk sustu kesatuan unsur-unsur yang padu.Kedudukan wacana dalam tatanan kebahasaan (linguistik formalistik) menurut David Nunan dilihat dari susunan susunan komponen kebahasaan adalah sebagai berikut. 
Wacana menjadi bagian hirarki kebahasaan yang terbesar karena mencakup beberapa unsur kebahasaan, yaitu fonem, morfem, kata, frasa, klausa, dan paragraf. Kumpulan beberapa fonem akan menjadi morfem, selanjutnya kumpulan dari beberapa morfem membentuk sebuah kata, gabungan dari dua kata atau lebih menjadi frase kemudian menjadi sebuah klausa, klausa membentuk sebuah kalimat dan kumpulan beberapa kalimat akan membentuk sebuah wacana. Hal tersebut berdasarkan urutan secara teoritis. Namun, sebuah wacana dapat terdiri dari beberapa unsurnya saja.
2.  Ciri-Ciri Wacana
Beberapa ciri-ciri wacana adalah sebagai berikut.
a.         Terdiri dari satuan gramatikal
b.        Satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap
c.         Untaian kalimat-kalimat
d.        Memiliki hubungan preposisi (kata depan)
e.         Memiliki hubungan koherensi
f.         Memiliki hubungan kohesi
g.        Medium bisa lisan maupun tulis.
3.  Jenis-Jenis Wacana
Pembagian jenis-jenis wacana didasarkan pada sudut pandang ide, gagasan, isi, maupun bentuk kebahasaan yang digunakan dalam sebuah wacana. Dengan demikian pembagian jenis-jenis wacana adalah sebagai berikut. Pertama pembegian wacana dilihat dari bentuknya dibedakan menjadi wacana lisan dan wacana tertulis. Wacana lisan adalah wacana yang bentuk penyampaiannya menggunakan media lisan atau ujaran, seperti membaca atau berbicara. Sedangkan wacana tulis adalah wacana yang media penyampaiannya menggunakan media tulisan.
Kedua, pembagian wacana berdasarkan penggunaan bahasanya dibedakan menjadi wacana prosa dan wacana puisi. Wacana prosa adalah wacana yang terdiri dari uraian-uraian ide, gagasan atau pikiran yang mengandung sebuah tujuan penyampaian. Wacana prosa berdasarkan tujuan penyampaian isinya dibedakan menjadi wacana argumentasi, yaitu uraian yang mengemukakan pendapat mengenai topik, masalah maupun gagasan kepada pembaca. wacana narasi adalah serangkaian uraian yang bersifat menceritakan suatu topik atau hal dengan memperhatikan kronologis atau urutan peristiwa. Wacana deskripsi adalah uraian yang bersifat menggambarkan dengan detail suatu obyek ataupun hal-hal tertentu dengan detail. Wacana eksposisi adalah wacana yang bersifat memaparkan topik atau fakta. Wacana persuasif adalah wacana yang berbentuk uraian mengenai pendapat, ide, ataupun gagasan yang bertujuan untuk mempengaruhi orang lain.
Ketiga, wacana puisi adalah wacana yang dalam penyampaian isi menggunakan bahasa-bahasa yang bersifat puitik dengan memperhatikan pemilihan kata dan gaya bahasa. (Chaer, 2007:272-273).
Keempat,  pembagian wacana berdasarkan bingkai atau maksud dibedakan menjadi dua macam yaitu wacana endoforik dan wacana eksoforik, wacana endoforik adalah wacana yang mengacu pada hal-hal di dalam wacana itu sendiri. Sedangkan wacana eksoforik adalah wacana yang mengacu pada hal-hal di luar wacana.

4.  Fungsi Wacana
Fungsi wacana yang utama adalah untuk menyampaikan informasi kepada pembaca maupun pendengar. Fungsi wacana dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu secara transaksional dan intruksional. Secara transaksional adalah bahwa sebuah wacana adalah uraian yang tersusun dari satuan gramatikan yang berfungsi untuk menyampaikan informasi berupa ide, gagasan, maupun menguraikan sebuah topik permasalahan. Sedangkan secara intruksional adalah bahwa wacana berfungsi untuk memberikan penjelasan mengenai ide atau gagasan yang disampaikan kepada pembaca ataupun pendengar. Funsi intruksional memberikan petunjuk atau arahan kepada pembaca atau pendengar, fungsi ini diimplementasikan pada jenis wacana persuasive.

B.       KEDUDUKAN WACANA
1.  Analisis “Wacana” dengan “Fonologi”
Abdul Chaer (2007:102) menjelaskan bahwa fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa. Wacana adalah kajian yang meneliti dan mengkaji bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
Hubungan antara fonologi dan wacana adalah sebagai berikut:
a.         Fonologi maupun wacana sama-sama menggunakan bahasa sebagai objek kajiannya, hanya saja perbedaannya adalah fonologi mengkaji struktur bahasa (khususnya bunyi bahasa) sedangkan analisis wacana mengkaji bahasa di luar struktur/kaidah-kaidah. Secara Hierarki, Fonologi merupakan tataran terkecil dalam Wacana. Dalam mengkaji wacana, teori tentang bunyi-bunyi bahasa sangat diperlukan sebab Fonologi merupakan dasar dari ilmu bahasa lainnya.
b.        Fonologi dan Wacana sama-sama mengkaji bahasa dalam bentuk lisan, hanya saja yang membedakan adalah fonologi tidak mengkaji bahasa dalam bentuk tulisan sebab yang menjadi objeknya hanyalah bunyi-bunyi bahasa yang dikeluarkan oleh alat ucap manusia, sedangkan wacana mengkaji naskah-naskah yang berbentuk tulisan.
2.  Analisis “Wacana” dengan “Morfologi”
Wijana (2007:1) menjelaskan bahwa morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk morfem dan penggabungannya untuk membentuk satuan lingual yang disebut kata polimorfemik.
Hubungan Morfologi dengan Wacana adalah sebagai berikut:
a.         Morfologi dan Wacana sama-sama menggunakan bahasa sebagai objek kajiannya. Hanya saja, sama dengan Fonologi, morfologi juga mengkaji struktur bahasa (khususnya pembentukan kata) sedangkan analisis wacana mengkaji bahasa di luar struktur/kaidah-kaidah. Secara Hierarki, Morfologi merupakan tataran terkecil kedua dalam Wacana. Dalam mengkaji wacana, teori tentang pembentukan kata sangat dibutuhkan sebab Wacana yang berbentuk naskah itu terbentuk dari susunan kata demi kata yang memiliki makna.
b.        Morfologi yang mempelajari seluk beluk pembentukan kata sangat berhubungan dengan Wacana karena dalam Wacana harus tepat dalam memilih kata-kata sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan oleh Wacana tersebut.
3.  Analisis “Wacana” dengan “Sintaksis”
Ramlan (1996:21) menjelaskan bahwa sintaksis adalah cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Sedangkan Kridalaksana dalam Tarigan (1984:208) menjelaskan bahwa wacana (discourse) adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk wacana yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.) paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap.
Hubungan antara Sintaksis dengan Wacana adalah sebagai berikut:
a.         Sintaksis dan Wacana sama-sama menggunakan bahasa sebagai objek kajiannya. Hanya saja, sama dengan Fonologi dan morfologi, Sintaksis juga mengkaji struktur bahasa (khususnya pembentukan kalimat) sedangkan analisis wacana mengkaji bahasa di luar struktur/kaidah-kaidah. Secara Hierarki, Sintaksis merupakan tataran terkecil ketiga dalam Wacana.
b.        Sintaksis yang mempelajari seluk beluk pembentukan kalimat sangat berhubungan dengan Wacana karena Dalam mengkaji wacana, teori tentang pembentukan kalimat sangat dibutuhkan. Sebuah Wacana dapat dikatakan baik apabila hubungan antara kalimat-kalimatnya kohesi dan koheren.
4.  Analisis “Wacana” dengan “Semantik”
George dalam Tarigan (1964:1), secara singkat dan populer menjelaskan bahwa semantik adalah telaah mengenai makna. Hubungannya dengan Wacana adalah baik Semantik maupun Wacana sama-sama mengkaji makna bahasa sebagai objek kajiannya. Hanya saja perbedaannya adalah Semantik mengkaji makna leksikal bahasa (makna lingistik), sedangkan Wacana mengkaji makna kontekstual atau implikatur dari ujaran-ujaran atau teks-teks.


5.  Analisis “Wacana” dengan “Pragmatik”
Levinson (1983) dalam bukunya yang berjudul Pragmatics, memberikan beberapa batasan tentang pragmatik. Beberapa batasan yang dikemukakan Levinson antara lain mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa. Dalam batasan ini berarti untuk memahami pemakaian bahasa kita dituntut memahami pula konteks yang mewadahi pemakaian bahasa tersebut. Batasan lain yang dikemukakan Levinson mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa untuk mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu.
Hubungan antara “Pragmatik” dan “Wacana” adalah sama-sama mengkaji makna bahasa yang ditimbulkan oleh konteks.
6.  Analisi “Wacana” dengan “Filologi”
Filologi adalah bahasa, kebudayaan, dan sejarah bangsa yang terekam dalam bahan tertulis seperti peninggalan naskah kuno linguistik, sejarah dan kebudayaan.
Hubungan Wacana dengan Filologi adalah: Filologi dan wacana sama-sama mengkaji bahasa dalam bentuk teks atau naskah. Perbedaan keduanya terletak pada tema atau topik teks atau naskah tersebut. Filologi mengangkat topik yang khusus membahas tentang sejarah sedangkan Wacana mengangkat topik yang lebih umum dari segala aspek sosial kehidupan bermasyarakat.
7.  Analisis “Wacana” dengan “Semiotika”
Semiotika adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna bahasa yang ditimbulkan dari tanda-tanda bahasa. Hubungannya dengan wacana adalah, baik wacana maupun semiotika sama-sama mengkaji tentang makna bahasa. Hanya saja, semiotika mengkaji makna bahasa berdasarkan ikon, symbol ataupun indeks sedangkan wacana mengkaji makna tuturan maupun ujaran-ujaran yang dihasilkan oleh masyarakat tutur.


8.  Analisis Wacana dengan Psikolinguistik
Psikolinguistik adalah suatu studi mengenai bagaimana penggunaan bahasa dan perolehan bahasa oleh manusia (levelt, 1975). Dari defenisi ini, terlihat ada dua aspek yang berbeda, yaitu pertama perolehan yang menyangkut bagaimana seseorang, terutama anak-anak belajar bahasa dan kedua adalah penggunaan yang artinya penggunaan bahasa oleh orang tua normal.
Hubungannya dengan Wacana adalah dalam penyususnan wacana, topik atau tema yang diangkat ataupun ujaran-ujaran yang dihasilkan berdasarkan kondisi Psikis manusia. Kondisi Psikis ini merupakan salah satu konteks yang dapat mendukung peneliti dalam memaknai suatu ujaran.
9.  Analisis Wacana dengan Sosiolinguistik
Wijana (2006:7) menjelasklan bahwa sosiolinguistik sebagai cabang linguistik memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa di dalam masyarakat, karena dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu, akan tetapi sebagai masyarakat sosial.
Hubungannya dengan wacana adalah baik wacana maupun sosiolinguistik sama-sama menitiberatkan bahasa dalam sebuah konteks. Perbedaannya adalah wacana mengkaji ujaran (bahasa) yang dihasilkan oleh masyarakat sedangkan sosiolinguistik menitiberatkan pada masyarakat pengguna bahasa.

Contoh real kedudukan wacana :
Hubungan Gramatikal dan Semantik dalam Wacana
Hubungan antarproposisi yang terdapat pada wacana (kalimat) dapat dipertimbangkan dari segi gramatika (memiliki hubungan gramatikal) dan dari segi semantik (hubungan makna dalam setiap proposisi)



1.        Hubungan Gramatikal
Unsur-unsur gramatikal yang mendukung wacana dapat berupa.
a)        Unsur yang berfungsi sebagai konjungsi (penghubung) kalimat atau satuan yang lebih besar, seperti dengan demikian, maka itu, sebabnya, dan misalnya.
b)        Unsur kosong yang dilesapkan mengulangi apa yang telah diungkapkan pada bagian terdahulu (yang lain) misalnya: Pekerjaanku salah melulu, yang benar rupanya yang terbawa arus.
c)        Kesejajaran antarbagian, misalnya: Orang mujur belum tentu jujur. Orang jujur belum tentu mujur.
d)       Referensi, baik endofora (anafora dan katafora) maupun eksofora. Referensi (acuan) meliputi persona, demonstratif, dan komparatif.
e)        Kohesi leksikal, Kohesi leksikal dapat terjadi melalui diksi (pilihan kata) yang memiliki hubungan tertentu dengan kata yang digunakan terdahulu. Kohesi leksikal dapat berupa pengulangan, sinonimi dan hiponimi, serta kolokasi.
f)         Konjungsi, Konjungsi merupakan unsur yang menghubungkan konjoin (klausa/kalimat) di dalam wacana.
2.  Hubungan semantik
Hubungan semantik merupakan hubungan antarproposisi dari bagian-bagian wacana. Hubungan antarproposisi dapat berupa hubungan antar klausa yang dapat ditinjau dari segi jenis kebergantungan dan dari hubungan logika semantik. Hubungan logika semantik dapat dikaitkan dengan fungsi semantik konjungsi yang berupa (1) ekspansi (perluasan), yang meliputi elaborasi, penjelasan/penambahan, dan (2) proyeksi, berupa ujaran dan gagasan


Sumber :Chaer, Abdul. Linguistik Umum. 2007. Jakarta: Rineka Cipta.
Tarigan, Guntur. 2009. Pengajaran Wacana. Angkasa : Bandung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WACAN NARASI, DESKRIPSI, ARGUMENTASI, EKSPOSISI PERSUASI

WACANA MONOLOG, DIALOG, DAN POLILOG

KAJIAN WACANA BAHASA INDONESIA